Search This Blog

Tuesday, July 31, 2012

Osteoporosis


Dari kecil, Lina memang jarang minum susu. Maklum, ia dilahirkan di jaman susah, di saat republik ini baru saja merdeka. Jangankan minum susu, makan saja sangat jarang ia mendapatkan pola makan bergizi. Sayangnya, kebiasaan makan dan minum yang tidak berkalsium ini terbawa terus hingga kehidupannya yang kini cukup mapan. Akibatnya, baru menjelang usia 50 tahun, Lina sudah dinyatakan osteoporosis oleh dokter.
 
Apa itu Osteoporosis ?
Osteoporosis adalah penyakit rapuh tulang yang umumnya mengenai wanita di atas usia 50 tahun, ditandai oleh hilangnya massa tulang secara berlebihan sehingga tulang menjadi rapuh, dan mudah patah. Osteoporosis atau rapuh tulang merupakan jenis penyakit rematik nomor 3 setelah nyeri pinggang dan osteoartritis.
 
Apa penyebabnya ? 
Penyebab utamanya adalah kehilangan kalsium atau zat kapur dalam jumlah yang banyak. Saat tubuh kekurangan kalsium, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang. Beberapa teori menyatakan, di atas usia 26 tahun, kekurangan kalsium ini sudah mulai terjadi akan tetapi tidak kentara. Di atas usia 35 tahun, kekurangan ini makin nyata, dan pada wanita, di usia menopause, kekurangan kalsium biasanya makin nyata. Walau demikian, penyakit ini tidak hanya terjadi pada kaum hawa saja. 
Hal lain yang mempengaruhi osteoporosis adalah faktor keturunan. Belum lagi faktor buruknya gizi, terutama kekurangan kalsium, dan faktor kurang berolah raga. Olahraga yang teratur membantu efisiensi penyerapan kalsium bagi tubuh.
 
Faktor resiko
Mereka yang beresiko tinggi menderita osteoporosis adalah para lanjut usia, wanita dengan usia lebih dari 50 tahun atau wanita yang telah menopause, mereka yang jarang melakukan aktivitas fisik/jarang berolah raga, dan para pecandu alkohol, kopi dan rokok..
 
Gejala klinis
Sayangnya, osteoporosis sering tidak menunjukkan gejala, sehingga penderita tidak menyadari telah menderita penyakit ini. Jikalau muncul, gejala yang sering terjadi adalah patah tulang belakang, patah tulang pergelangan tangan, atau sendi pinggul. Hal terebut bisa tidak terasa nyeri sama sekali, nyeri ringan, atau nyeri berat.
 
Pengobatan
Pengobatan osteoporosis dapat dilakukan dengan cara terapi hormon untuk mencegah kehilangan banyak kalsium, atau fisioterapi untuk mendapat program latihan yang sesuai dengan keadaan penderita. Terapi hormon dilakukan secara long term, yaitu sekitar 8 — 10 tahun dalam kurun waktu menopause. Massa tulang sendiri dapat diamati dengan menggunakan alat DEXA, yang bisa didapat di klinik-klinik rehabilitasi tulang, atau beberapa dokter spesialis tulang. Dari analisa hasil DEXA tersebut, bisa diketahui seberapa parah kondisi rapuh tulang yang diderita.
 
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pencegahan sebelum terkena osteoporosis atau sesudah terkena. Pencegahan sesudah terkena osteoporosis ditujukan agar penderita tidak mengalami patah tulang. Pencegahannya meliputi menjaga keamanan baik di dalam maupun di luar rumah, shingga mencegah tersandung, terpeleset, dan jatuh. Pencegahan tersebut meliputi penerangan yang cukup, menggunakan sandal/sepatu yang nyaman, tidak minum minuman keras, dsb.
 
Pencegahan sebelum terkena rapuh tulang ditujukan agar tubuh mendapat kecukupan kalsium, dengan cara :
  • Makan makanan / minuman yang cukup berkalsium. Kalsium tidak hanya berasal dari susu, tetapi juga dari sayur, ikan, dan dairy porduct lainnya (keju, butter, dsb) 
  • Lakukan aktivitas olah raga, terutama olah raga angkat beban. Harap diingat, bagaimanapun, olah raga yang anda pilih sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik dan usia anda. 
  • Kurangi minum minuman beralkohol dan yang mengandung kafein, garam dalam kadar tinggi, dan kurangi merokok. 
 
Daftar Pustaka
Panduan Kesehatan Keluarga, ESAI — Human Health Care Company, 1996

0 comments:

Post a Comment